/ Jun 03, 2026

NE

News Elementor

NE

News Elementor

What's Hot

Akhir Misteri “Rumah Api” di Seyegan: Sempat Dikerubuti Dukun, Tim Geolog UGM dan UPN Ungkap Biang Keroknya

Table of Content

Barang-barang milik warga yang hangus terbakar akibat fenomena rumah api di Seyegan, Sleman.

Sumber Foto: Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM)

SLEMAN, infosembada.com — Misteri teror api yang muncul tiba-tiba di sebuah rumah warga di Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman akhirnya menemukan titik terang. Setelah sempat memicu kepanikan hingga mengundang kedatangan banyak dukun, investigasi gabungan dari para pakar geologi perlahan menguak tabir ilmiah di balik fenomena ganjil tersebut.

Sejak pertama kali muncul pada Sabtu (23/5/2026) dini hari, api misterius terus menyala secara acak di rumah milik Mutfiana (Fia). Hingga akhir pekan lalu, titik api tercatat telah muncul sedikitnya 39 hingga 57 kali di berbagai lokasi dalam rumah. Anehnya, api hanya membakar barang-barang tertentu seperti pakaian, handuk, tikar, hingga sofa, namun tak jarang bagian bawah barang tersebut justru utuh meski bagian atasnya hangus.

Kerap Disangkutpautkan dengan Hal Gaib

Rentetan kejadian tak wajar ini sontak membuat geger warga sekitar. Saking ramainya, rumah Fia sempat menjadi semacam “tempat wisata dadakan” bagi orang-orang yang penasaran. Tak sedikit dukun, termasuk dari kawasan Godean, yang datang untuk melakukan ritual penarikan pusaka karena menduga teror api ini adalah ulah makhluk gaib.

Pihak PLN UP3 Sleman juga sempat turun tangan memeriksa instalasi listrik di rumah tersebut. Manager PLN UP3 Sleman, Ririn Harwati, menegaskan bahwa tidak ada kerusakan maupun korsleting listrik yang bisa memicu percikan api. Begitu pula dengan Tim Gegana Polda DIY yang sempat mencurigai kebocoran gas septic tank, namun setelah diperbaiki, api tetap saja muncul.

Sains Menjawab: Jejak Rawa Purba dan Gas Metana

Menjawab keresahan warga, tim ahli gabungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta turun ke lokasi pada Sabtu (30/5/2026) untuk melakukan observasi multidisiplin.

Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Jogja, Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad, mengungkapkan bahwa biang kerok dari teror api tersebut diduga kuat adalah gas metana (CH4) alami yang bermigrasi dari dalam tanah.

“Kami menemukan indikasi kuat gelembung gas metana di bawah jembatan Jalan Nepen, sekitar 300 meter dari rumah. Ini menjadi indikasi bahwa batuan di wilayah ini dulunya adalah bekas rawa,” ujar Prof. Basuki. Gas tersebut diduga merambat naik ke rumah warga melalui jalur retakan tanah.

Sementara itu, Dosen Teknik Geologi UGM, Dr. Sarju Winardi, yang melakukan pemindaian suhu dengan kamera termal (thermal gun) menjelaskan mengapa api hanya membakar barang-barang tertentu secara acak.

Menurut Dr. Sarju, sifat rilis gas metana di Seyegan ini rendah (low release) dan kalorinya kecil, sehingga butuh akumulasi kadar yang cukup tinggi agar bisa menyala. Gas yang keluar dari lantai perlahan-lahan menumpuk dan terjebak di dalam benda-benda berpori.

“Material yang punya pori-pori seperti pakaian, sofa, atau kasur akan menyimpan gas di situ. Ketika jumlahnya sudah cukup banyak dan berinteraksi dengan oksigen, gas tersebut baru akan menyala,” jelasnya. Hal inilah yang menjawab teka-teki mengapa handuk atau baju di dalam lemari bisa mendadak terbakar.

Langkah Mitigasi: Jangan Tutup Ventilasi!

Sebagai langkah preventif sembari menunggu hasil uji laboratorium yang lebih komprehensif, tim ahli multidisiplin Fakultas Teknik UGM—yang dipimpin oleh Prof. Alva Edy Tontowi—memberikan sejumlah rekomendasi penting kepada pemilik rumah:

  1. Maksimalkan Sirkulasi Udara: Buka seluruh ventilasi jendela selebar mungkin. Sangat disarankan untuk memasang kipas angin atau blower yang mengarah ke luar ruangan agar gas metana cepat terurai dengan udara bebas dan tidak menumpuk di satu titik.
  2. Keluarkan Barang Berpori: Segera evakuasi barang-barang yang mudah menyerap gas dan terbakar, seperti tumpukan kain, baju, busa, dan tikar dari dalam rumah.

Prof. Basuki menambahkan bahwa tekanan gas metana di lokasi sejatinya rendah, sehingga tidak berpotensi menimbulkan ledakan besar yang membahayakan seperti tabung LPG. “Potensi menyebar ke rumah tetangga juga relatif kecil karena ketika metana lepas ke udara luar, kadarnya akan langsung menurun drastis,” pungkasnya.

Pemerintah Kabupaten Sleman, melalui Bupati Harda Kiswaya, turut mengapresiasi gerak cepat para akademisi ini. Diharapkan penjelasan ilmiah ini mampu menghentikan spekulasi liar di masyarakat sehingga warga Margomulyo dapat kembali beraktivitas dengan tenang.

Saat ini, pihak keluarga Fia dilaporkan masih mengungsi sementara waktu ke rumah sebelah saat malam hari, sembari tetap menjaga kediaman mereka agar sisa-sisa gas tidak kembali memicu kebakaran. Tim geolog berencana memantau fluktuasi gas selama kurang lebih satu bulan ke depan.

Info Sembada

Info Sembada adalah platform media lokal yang menyajikan berita terkini, dinamika komunitas, serta promosi potensi ekonomi dan UMKM di wilayah Sleman. Kami hadir dengan pendekatan yang informatif, lugas, dan objektif untuk memberikan referensi informasi yang terpercaya bagi masyarakat Sleman dan sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Trending News

Editor's Picks

NE

News Elementor

Media informasi independen yang menyajikan kabar terkini, info komersial, dan ruang potensi lokal Sleman

Popular Categories

Kontak

© INFO SEMBADA – All Right Reserved.